10 June 2008

Tentang Immanuel Kant, John Rawls, dan Etika Kantian Rawls Mengenai Teori Keadilan



"Keadilan dan kekuasaan harus dipegang bersama,
sehingga apapun yang adil akan sangat kuat
dan apapun yang sangat kuat akan adil"
Blaise Pascal (1623-1662)


Artikel ini membahas singkat tentang Teori Keadilan John Rawls, tetapi terlebih dahulu memperkenalkan sekilas biografi baik Immanuel Kant maupun John Rawls, serta pengaruh Kant terhadap pemikiran Rawls.



Immanuel Kant

Immanuel Kant[1] (1724-1804) adalah seorang filsuf besar Jerman abad ke-18 yang memiliki pengaruh sangat luas bagi dunia intelektual. Pengaruh pemikirannya merambah dari wacana metafisika hingga etika politik dan dari estetika hingga teologi. Lebih dan itu, dalam wacana etika ia juga mengembangkan model filsafat moral baru yang secara mendalam mempengaruhi epistemologi selanjutnya.

Telaah atas pemikiran Kant merupakan kajian yang cukup rumit, sedikitnya karena dua alasan. Pertama, Kant membongkar seluruh filsafat sebelumnya dan membangunnya secara baru sama sekali. Filsafatnya itu oleh Kant sendiri disebut Kritisisme untuk melawankannya dengan Dogmatisme. Dalam karyanya berjudul Kritik der reinen Vernunft (Kritik Akal Budi Murni, 1781/1787) Kant menanggapi, mengatasi, dan membuat sintesa antara dua arus besar pemikiran modern, yakni Empirisme dan Rasionalisme. Revolusi filsafat Kant ini seringkali diperbandingkan dengan revolusi pandangan dunia Kopernikus, yang mematahkan pandangan bahwa bumi adalah datar.

Kedua, sumbangan Kant bagi Etika. Dalam Metaphysik der Sitten (Metafisika Kesusilaan, 1797), Kant membuat distingsi antara legalitas dan moralitas, serta membedakan antara sikap moral yang berdasar pada suara hati (disebutnya otonomi) dan sikap moral yang asal taat pada peraturan atau pada sesuatu yang berasal dan luar pribadi (disebutnya heteronomi).

Kant lahir pada 22 April 1724 di Konigsberg, Prussia Timur (sesudah PD II dimasukkan ke Uni Soviet dan namanya diganti menjadi Kaliningrad). Berasal dan keluarga miskin, Kant memulai pendidikan formalnya di usia delapan tahun pada Collegium Fridericianum. Ia seorang anak yang cerdas. Karena bantuan sanak saudaranyalah ia berhasil menyelesaikan studinya di Universitas Konigsberg. Selama studi di sana ia mempelajari hampir semua matakuliah yang ada. Untuk mencari nafkah hidup, ia sambil bekerja menjadi guru pribadi (privatdozen) pada beberapa keluarga kaya.

Pada 1775 Kant rnemperoleh gelar doktor dengan disertasi benjudul “Penggambaran Singkat dari Sejumlah Pemikiran Mengenai Api” (Meditationum quarunsdum de igne succinta delineatio). Sejak itu ia mengajar di Univensitas Konigsberg untuk banyak mata kuliah, di antaranya metafisika, geografi, pedagogi, fisika dan matematika, logika, filsafat, teologi, ilmu falak dan mineralogi. Kant dijuluki sebagai “der schone magister” (sang guru yang cakap) karena cara mengajarnya yang hidup bak seorang orator.

Pada Maret 1770, ia diangkat menjadi profesor logika dan metafisika dengan disertasi Mengenai Bentuk dan Azas-azas dari Dunia Inderawi dan Budiah (De mundi sensibilis atgue intelligibilis forma et principiis). Kant meninggal 12 Februari 1804 di Konigsberg pada usianya yang kedelapanpuluh tahun. Karyanya tentang Etika mencakup sebagai berikut: Grundlegung zur Metaphysik der Sitten (Pendasaran Metafisika Kesusilaan, 1775), Kritik der praktischen Vernunft (Kritik Akal Budi Praktis, 1 778), dan Die Metaphysik der Sitten (Metafisika Kesusilaan, 1797).


John Rawls

John Rawls, bernama lengkap John Borden Rawls (1921-2002) [2], lahir dua abad setelah Immanuel Kant. Rawls adalah filsuf asal Amerika yang pemikirannya banyak dipengaruhi Kant. Ia juga memiliki pemikiran yang rumit dan ambisius. Argumen-argunennya selalu dibangun dari telaah sejarah yang mendalam dan didasari pada wawasan keilmuan serta disiplin yang beragam.

Pendidikan Rawls di bidang ekonomi dan filsafat. Seusai perang Dunia II ia mengajar sebagai profesor filsafat berturut-turut di Universitas Princeton, Universitas Cornell, dan Massachussets Institute of Technology (MIT). Sejak tahun 1962 ia mengajar di Universitas Harvard hingga masa pensiunnya.

Pada masa remajanya, saat baru saja menyelesaikan studinya di Princeton, Rawls sempat menjadi tentara, pengalaman yang baginya sangat buruk. Ia menyaksikan apa yang tenjadi di kawasan Pasifik dan sempat ditugaskan di Nu Guini, Filipina dan Jepang dan berada di Pasifik saat Amerika membombardir Hiroshima pada 1945. Kelak lima tahun pascapemboman itu Rawls mengkritik keras tindakan tersebut lewat artikelnya di jurnal politik Amerika, Dissent. Saat ia di Universitas Harvard di tahun 60-an, ia juga berkampanye anti-perang dalam sebuah Konferensi Anti Perang di Washington saat Vietnam berusaha dikuasai Amerika.

Rawls keluar dan tentara pada 1946. Ia lalu kembali ke alma maternya, Princeton, untuk menulis disertasi doktoralnya di bidang flisafat moral. Tahun 1949 ia menikah dengan Margaret Fox, seorang sarjana yang pelukis. Mereka dikarunia 5 orang anak. Di akhir masa studinya di tahun 1949-50, Rawls mengambil kursus di bidang teori politik, yang kelak menjadi batu pertama penulisan karya besarnya tentang keadilan, A Theory of Justice (Teori Keadilan), yang diterbitkan pada tahun 1971 (jadi Rawls telah mempersiapkan bukunya itu dalam kurun waktu 20 tahun!). A Theory of Justice pun menjadi salah satu buku filsafat dan abad ke-20 yang paling banyak ditanggapi dan dikomentari, bukan saja di kalangan filsafat melainkan dari para ahli ekonomi dan politik.

Rawls sangat berjasa melahirkan polemik tentang keadilan pada dekade 1970-an di Arnerika, yang segera menjadi perbincangan luas di seantero dunia. Publikasi A Theory of Justice memang peristiwa yang patut dicatat. Sejak saat kemunculan buku itu Rawls segera menjadi terkenal sebagai seorang filsuf terkemuka di Amerika dan kelak di dunia. Diperkirakan telah ada sekarang ini tak kurang dari 5.000 buku atau artikel yang memperbincangkan gagasannya itu. Buku A Theory of Justice di Amerika saja dengan cepat terjual 200.000 kopi, sekurang-kurangnya 23 kali cetak ulang, dan juga telah diterjemahkan ke dalam tak kurang 23 bahasa. Sebagian besar dan para pelajar yang menekuni bidang politik dan filsafat dipastikan mempelajari gagasan­-gagasannya. Cerita tentang “bagaimana Rawls telah melahirkan kembali filsafat politik dan meremajakan liberalisme” merupakan bagian dan legenda akademik masa itu.

Pada awal karir akademisnya di tahun 1958, Rawls menulis artikel berjudul Justice as Fairness sebagai awal dan debut pemikirannya tentang konsep keadilan. Ia memang pada saat sebelum dan sesudah peluncuran A Theory of Justice menulis beberapa artikel sebagai penjelasan tentang karyanya yang besar itu. Baru pada 1993 terbit bukunya yang kedua, Political Liberalism, yang untuk sebagian merevisi pandangannya dalam buku pertama, antara lain dengan mengakui bahwa masyarakat modern sangat heterogen dan karenanya toleransi harus menjadi ciri khas masyarakat yang adil. Di masa senjanya ia kembali menerbitkan bukunya yang ketiga: The Law of People (1999), buku tentang keadilan internasional yang menggenapkan “trilogi”karya­nya itu.

Etika Kantian Rawls

Pernikiran-pemikiran Rawls dalam A Theory of Justice tak dapat disangkal memiliki basis kuat pada etika sentral Immanuel Kant mengenai otonomi manusia. Oleh Rawls hak-hak dasar dan politik masyarakat ditempatkan pada jantung sistem pemikiran etika politiknya yang tak boleh diganggu-gugat. Mengafirmasi Kant, Rawls percaya bahwa ciri yang paling membedakan manusia dengan makhluk lain adalah kemampuannya untuk secara bebas memilih apa yang rnenjadi pilihan dan kehendaknya. Gagasan Kant tentang otonomi (rasionalitas) manusia memang oleh Rawls dijadikan sebagai salah satu basis kebenaran tesisnya.[3]

Bagi Rawls pelaku yang otonom adalah seseorang yang tindakannya ditentukan oleh prinsip-prinsip rasional, bukan oleh dorongan-dorongan sementara. Gagasan ini ia meujuk pada Kant. Katanya, kita bertindak secara otonom (rasional) jika kita menerima prinsip-prinsip yang dipilih dalam posisi asali (original position), sebab otonomi atau rasionalitas (Kant mengidentikkan keduanya) adalah unsur penting dalam posisi asali. Posisi asali menurut Rawls adalah murni situasi hipotesis yang diandaikan ada untuk menentukan prinsip-prinsip keadilan.[4]

Ada tiga ciri dasar posisi asali: rasionalitas (rationalitiy), kebebasan (freedom), dan kesetaraan (equality). Ketiga ciri dasar tersebut memerlukan dua hal: pertama, selubung ketidaktahuan (veil of ignorance), dan kedua, sikap saling tak memihak-berkepentingan (mutually disinterested attitude). Veil of ignorance adalah sikap yang membebaskan diri dari segala bias yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Sedangkan mutually disinterested attitude adalah sikap yang melepaskan diri dari sifat cemburu terhadap keuntungan yang akan diperoleh orang lain.

Gagasan tentang keadilan Rawls dalam A Theory of Justice memang memiliki kedalaman perspektif. A Theory of Justice mengurai panjang tema-tema sekitar keadilan: prinsip-prinsip keadilan (principles of justice), posisi asali (original position), kebebasan (freedom), kesetaraan (equality).
Apa yang digagas Rawls dalam pandangan-pandangannya mengenai keadilan sebagai fairness adalah satu upaya mewujudkan semangat egalitarian pada struktur masyarakat. Tentu egalitarianisme itu tidak boleh dimengerti dalam arti secara radikal. Rawls berpendapat soal sikap adil, yaitu bahwa pembagian nilai-nilai sosial yang primer (primary social good) disebut adil jika pembagiannya dilakukan secara merata, kecuali jika pembagian yang tidak merata merupakan keuntungan bagi setiap orang. Nilai-nilai sosial yang primer yang dimaksud adalah kebutuhan dasar yang sangat kita butuhkan untuk bisa hidup pantas sebagai manusia dan warga masyarakat. Kebutuhan dasar itu antara lain hak-hak dasar, kebebasan, kesejahteraan, dan kesempurnaan.

Egalitarianisnie di atas, kata Rawls, akan dicapai jika struktur dasar masyarakat (basic structure of society) yang disepakati dalam situasi kontrak menguntungkan semua pihak. Pandangannya mengenai situasi kontraktarian dalam membangun masyarakat memang bukanlah gagasan baru. Hal itu telah banyak ditawarkan oleh para pemikir pendahulunya, seperti Hobbes, Locke, Rousseau. Hanya saja situasi kontraktarian masyarakat ala Rawls adalah ‘sintesis’ dan teori kontrak sosial sebelumnya yang cenderung utilitarianistik di satu sisi dan intuisionistik di lain sisi di mana masing-masing memiliki cacat mendasar. Menurut Rawls utilitarianisme telah memunculkan sikap-sikap pembenaran orang kuat yang tak adil terhadap orang lemah, dan mengancarn hak-hak individu, sedangkan pandangan intuisionisme terjebak dalam subjektivisme moral, dan karenanya mengancam rasionalitas keadilan.

Bidang utama prinsip keadilan, demikian Rawls, adalah struktur dasar masyarakat (basic structure of society) yang meliputi institusi sosial, politik, hukum, ekonomi, karena struktur institusi itu mempunyai pengaruh mendasar terhadap prospek kehidupan individu. Maka problem utama keadilan ialah merumuskan dan memberikan alasan pada sederet prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh sebuah struktur dasar masyarakat yang adil, yaitu bagaimana prosedur pendistribusian pendapatan yang adil kepada masyarakat.
Prinsip keadilan, Rawls menyatakan, haruslah berdasar pada asas hak, bukan manfaat. Jika asas manfaat yang menjadi dasar maka ia akan mengabaikan prosedur yang fair: hal yang dianggap utama adalah hasil akhirnya yang memiliki banyak manfaat untuk sebanyak mungkin orang tanpa mengindahkan cara dan prosedurnya (the greatest good for the greatest number). Sebaliknya, prinsip keadilan yang berdasarkan pada asas hak akan melahirkan prosedur yang fair karena berdasar pada hak-hak (individu) yang tak boleh dilanggar (hak-hak individu memang hal yang dengan gigih diperjuangkan Rawls untuk melawan kaum utilitarian). Maka dengan menghindari pelanggaran terhadap hak semua orang sesungguhnya juga akan menciptakan prosedur yang adil (fair), apapun manfaat yang dihasilkannya. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah: mekanisme yang bagaimanakah yang kondusif untuk menciptakan prosedur yang fair tersebut?
Rawls menjawab: prosedur harus dibuat pada posisi asali yang diandaikan ada oleh orang-orang yang tak memihak, yang berada di baiik selubung ketidaktahuan. Menurut Rawls, sambil berada dalam posisi asali kita dapat menyetujui prinsip-prinsip keadilan berikut ini.

Prinsip pertama:
Setiap orang mempunyai hak yang sama atas kebebasan-kebebasan dasar yang paling luas yang dapat dicocokkan dengan kebebasan-kebebasan yang sejenis untuk semua orang, dan

Prinsip kedua:
Ketidaksamaan sosial dan ekonomis diatur sedemikian rupa sehingga
a) menguntungkan terutama orang-orang yang minimal beruntung, dan serentak juga
b) melekat pada jabatan-jabatan dan posisi-posisi yang terbuka bagi semua orang dalam keadaan yang menjamin persamaan peluang yang fair.[5]

Tentang hubungan kedua prinsip itu lebih lanjut Rawls menjelaskan bahwa prinsip pertama (kebebasan yang sedapat mungkin sama) harus diberi prioritas mutlak. Prinsip ini tidak boleh dikalahkan oleh prinsip-prinsip lain. Sedangkan prinsip kedua b (persarnaan peluang yang fair), harus ditempatkan di atas prinsip kedua a (prinsip perbedaan).

Pada skala nilai dalam masyarakat adil yang dicita-citakan Rawls, paling atas harus ditempatkan hak-hak kebebasan, yaitu hak-hak asasi manusia; lalu harus dijamin peluang yang sama bagi semua warga untuk memangku jabatan penting; dan akhirnya perbedaan sosial-ekonomi tertentu dapat diterima demi peningkatan kesejahteraan bagi orang-orang yang minimal beruntung.***

Catatan:



[1] Tentang sosok Immanuel Kant saya merujuk pada Franz Magnis-Suseno, 13 Tokoh Etika. Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19, Yogyakarta: Kanisius, 1998; dan Simon P. Liii Tjahjadi, Hukum Moral. Ajaran Immanuel Kant tentang Etika dan Imperatif Kategoris, Yogyakarta: Kanisius, 1991.
[2] Tentang John Rawls, saya merujuk pada artikel Ben Rogers, “John Rawls”, dalam majalah Prospect,
London, edisi Juni, 1999, h. 50-55; dan Kees Bertens, Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta: Kanisius, 2000, h.101-4.
[3] Lihat Ben Rogers, loc.cit.; Ciri Kantian Rawls secara tegas oleh Rawls dibahasnya sendiri dalam bukunya, A Theory of Justice, Massachusetts: Harvard University Press, (cet. Ke-23), 1999, h.25 1-7.
[4] Louis I Katzner berpendapat bahwa posisi asali adalah sebuah intrepretasi khusus dan konsep umum
situasi awal (initial situation). lstilah itu menunjuk pada syarat-syarat di mana perjanjian yang menyangkut aturan-aturan dasar suatu masyarakat dibuat. Dengan kata lain, aturan-aturan yang disetujui tergantung pada cara situasi awal dilukiskan. Lihat Louis I. Katzner, “The Original Position and the Veil of Ignorance”, dalam H. Gene Blocker dan Elizabeth H. Smith (eds.), John Rawls’ Theory of Social Justice. An Introduction, Athens, Ohio University Press, 1976, h. 43; Lihat juga John Rawls, op.cit., h. 118-141.
[5] John Rawls, Ibid., h. 60; Lihat Kees Bertens, op.cit., h. 103-4.
Post a Comment